Aku Anak Pertama yang Unik dan Spesial

Mungkin telah sering telinga kita mendengar banyak orang berkata bahwa anak pertama adalah harapan besar bagi orang tuanya. Mungkin kita juga pernah mendengar bisikan halus orang tua akan harapannya pada anak pertamanya ini. Mungkin juga orang-orang atau mungkin orang tuaku sendiri berpikir bahwa anak pertama sesempurna itu sampai tidak ada celah kelemahan pada dirinya. Namun, aku merasa aku jauh dari yang mereka pikirkan, mungkin juga aku masih belum sesuai dengan yang orang tuaku harapkan. Mungkinkah aku anak pertama yang unik dan spesial? 

Kebanyakan orang berpikir bahwa anak pertama adalah anak yang sempurna. Orang bilang anak pertama adalah anak yang pemberani, segala tantangan dia hadapi dengan percaya diri. Orang-orang selalu beranggapan anak pertama tak takut dengan tantangan dan seramnya dunia luar. Namun, aku berbeda. Di keluargaku akulah anak yang paling penakut. Hewan sekecil kecoak bisa membuatku teriak histeris seperti dikejar hantu atau mungkin bahkan melebihi itu. Setiap ada tamu yang datang ke rumah, aku yang paling pertama lari terbirit mencari tempat persembunyian yang paling aman agar tidak bertemu dengan tamu itu. Aku juga takut pergi sendirian ke tempat yang belum pernah aku datangi, aku selalu minta ditemani orang tuaku. 

Anak pertama dikenal sebagai anak yang mandiri, semua pekerjaan rumah seketika beres di tangan anak pertama. Bahkan, semua penghuni rumah bisa sangat tunduk pada anak pertama membuatnya tak jarang orang menyebut anak pertama adalah "pemegang tahta tertinggi" di rumah. Tapi tidak seperti kebanyakan cerita anak pertama, justru aku anak yang paling manja dibandingkan dengan adik-adikku. Sebagai gambaran saja, untuk melakukan hal kecil pun aku merengek meminta ibuku untuk melakukannya. Ketika aku membeli mie ayam bersama bapakku, aku pernah terpeleset hingga jatuh dengan reflek aku berkata "Aduh, Rizqe tibo" Yang artinya "Aduh, Rizqe jatuh" Dengan nadanya yang sangat manja. 

Anak pertama itu anak yang bisa mamanajemen sesuatu dengan sangat baik. Semua kegiatan dilakukannya dengan sangat sempurna bahkan hal sekecil apapun, tidak ada terlupa meskipun satu hal. Tapi aku orang yang pelupa akut. Ketika SMP aku pernah lupa membawa tas ranselku. Aku hanya membawa tas tentengku yang hanya berisi buku-buku paket tebal, sedangkan buku tulis yang berisi tugas dan catatanku serta LKS dan alat tulis semuanya berada di tas ranselku. Saat itu aku menangisi kecerobohanku ini, bagaimana bisa tas ransel sebesar itu terlupa untuk kubawa. Aku juga pernah lupa ketika adikku dirawat di rumah sakit, aku ikut menginap disana padahal besoknya aku harus sekolah. Sialnya aku lupa membawa jilbab sekolahku. Akhirnya sebelum ke sekolah pagi-pagi sekali aku diantar bapakku ke pasar dekat sekolah untuk membeli jilbab. Haha lucu sekali, mungkin saat itu aku sangat takut sampai keringat dingin, tapi sekarang aku tertawa terpingkal-pingkal ketika mengingatnya. 

Orang bilang anak pertama itu anak yang paling dewasa. Terlebih ketika anak kedua telah tiba di dunia, seketika semua kasih sayang berpindah kepadanya yang membuat kita seolah dipaksa untuk menjadi seorang yang dewasa. Memang benar, aku pun merasa ketika aku memiliki adik, semua perhatian orang tuaku tertuju ke adikku. Yang sebelumnya aku setiap hari diajak berkeliling sawah dengan bapakku, pergi ke mall dengan bapak ibuku, makan disuapi ibuku, disisir rambut bahkan setiap hari aku selalu didandani dengan model rambut yang berbeda dengan kuncir warna-warni, jepit rambut yang lucu, dan bando yang cantik nan menggemaskan. 

Lalu ketika adikku lahir semuanya seketika berubah. Aku sudah jarang diajak jalan-jalan, sekalipun jalan-jalan itu hanya dengan bapakku, karena ibuku harus menjaga adikku. Aku juga tidak pernah disuapi lagi ketika makan. Rambutku juga langsung dipotong pendek dengan alasan agar tidak ribet merawatnya. Jepit-jepit rambutku telah jarang menempel di kepalaku. Bagaimana sempat ibuku mendadani rambutku, syukur-syukur rambutku masih tersisir rapi, itupun yang menyisir aku sendiri haha. 

Kesal? Pasti. Dulu aku tidak suka sekali memiliki adik. Aku kesal dengan kehadiran dia. Kenapa sih dia harus lahir ke dunia ini? Kemana masa kejayaanku? Kemana Rizqe yang jadi anak kesayangan itu? Ah semua sudah habis masanya, sekarang aku dituntut untuk menjadi dewasa. Tapi ternyata tak semudah itu menjadi dewasa. Nyatanya aku merasa sampai sekarang aku masih menjadi Rizqe yang kekanak-kanakan, dalam mengambil keputusan aku masih ragu-ragu dan hampir selalu aku meminta saran orang tuaku. Bahkan sekadar membeli baju aku minta dipilihkan ibuku. Oh iya, aku tidak suka dipanggil "mbak" atau "kak" oleh adikku, aku selalu marah dan berkata "panggil rizqe aja!" Entahlah, aku memang sangat tidak suka, lebih baik aku dipanggil nama saja oleh adikku atau bahkan aku lebih suka dianggap adik oleh adikku daripada kakak, haha lucu sekali padahal mau panggilan seperti apa aku tetap saja seorang kakak. 

Tapi, kini usiaku telah dewasa. Aku telah menjadi anak rantau yang tinggal sendiri di kota orang. Mungkin ini saatnya anak pertama yang manja ini dituntut benar-benar menjadi dewasa. Aku bisa menerima tamu dan mengajaknya berbincang banyak hal, mengerjakan semua pekerjaan rumah sendiri, bahkan aku sudah mampu membuat keputusan dengan pertimbanganku sendiri. Yaaa meskipun ketika berada di dekat ibu bapakku aku menjadi anak manja lagi haha. Tidak mengapa, mungkin ini bentuk kenyamananku ketika di dekatnya. 

Tetapi ada beberapa hal yang masih melekat pada diriku, mungkin saja memang inilah keunikanku. Aku masih tidak suka dipanggil "kak" oleh adik-adikku meskipun aku sudah memiliki tiga adik. Sampai sekarang aku juga masih takut kecoak hahaha. Bahkan ketika UTS di auditorium kemarin ada kecoak berjalan di depan kursiku hampir saja aku teriak menggemparkan seisi ruang auditorium, tapi untungnya aku masih bisa menahannya, karena lebih takut dengan pengawas daripada kecoak itu haha. 

Aku juga masih menjadi seorang yang pelupa, baru saja satu jam sebelum tulisan ini ditulis aku hampir ketinggalan kereta karena saat hampir sampai stasiun aku harus kembali ke rumah untuk mengambil kunci kos yang tertinggal. Untungnya bapakku sang pembalap ini bisa ngebut war wer wur sehingga 5 menit sebelum kereta berangkat aku sudah tiba di stasiun. "Alhamdulillah" Itu kata yang hanya bisa kuucapkan diiringi embusan napasku yang kuat, syukur masih bisa sampai tepat waktu dan selamat. Namun bukan berarti aku tidak ada usaha untuk mengatasi sifatku yang pelupa, tentunya ada usaha yang aku lakukan, namun ada satu atau dua kejadian yang terjadi di luar prediksi. 

Sekarang aku masih dalam proses pendewasaan diri. Semakin dewasa usiaku, aku juga harus semakin dewasa dalam berpikir dan bertindak, apalagi tahun depan aku sudah lulus kuliah dan bekerja. Semoga proses ini bisa membuatku menjadi sebenar-benarnya anak pertama untuk orang tuaku dan sebenar-benarnya kakak untuk adik-adikku. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Tantangan Bonus Demografi dan Derajat Kesehatan di Jawa Tengah

Trade Off antara Pembangunan Pariwisata Berbasis Alam dan Budaya di Semarang

Jakarta dan Diriku