Jakarta dan Diriku
Jakarta. Kota metropolitan yang tidak pernah sepi. Siang harinya diterangi dengan terik matahari dengan polusi yang menemaninya, sedangkan malam hari yang diterangi dengan ribuan lampu gedung pencakar langit yang memanjakan mata. Kesibukan dan keramaian adalah dua hal yang identik dengan kota ini. Sedangkan aku, hanya seorang introvert yang sibuk menikmati keheningan rumah. Mau sehari dua hari bahkan setahun di rumah pun mungkin aku tidak akan pernah bosan. Dua hal ini membuatku tersadar bahwa aku mungkin tidak akan betah tinggal di kota ini.
Saat masih bersekolah, beberapa kali aku mendengar cerita dari temanku tentang menyenangkannya tinggal di Jakarta. Ada pula temanku yang memimpikan untuk bisa kuliah atau tinggal di Jakarta suatu saat nanti. Berbeda dengan mereka, aku tidak pernah memimpikan tinggal dan berkuliah di Jakarta. Yang ada di pikiranku hanya ingin menghabiskan waktuku untuk selalu dekat dengan orang tuaku di daerah tempat tinggalku.
Namun sepertinya aku lupa dengan cita-citaku, menjadi seorang abdi negara jalur sekolah kedinasan. Kenyataannya, sekolah kedinasan letaknya menyebar di seluruh wilayah di Indonesia. Memang ada satu sekolah kedinasan di dalam kotaku, namun persyaratan tes fisik yang berat membuat melangkah mundur. Hingga akhirnya aku menjatuhkan hatiku pada satu tujuanku, Polstat STIS, sekolah kedinasan impianku yang letaknya di kota yang bersebrangan dengan pribadiku. Saat itu telah tiba, akhirnya aku menginjakkan kakiku di Kota Jakarta untuk pertama kalinya. Mendiami kota ini dalam waktu yang tidak sebentar, 3 tahun lamanya, untuk mendapatkan gelar dari sekolah kedinasan impianku, Polstat STIS. Tentu banyak perubahan pada diriku sebagai adaptasiku tinggal disini.
Beberapa hal yang berubah dari diriku sejak tinggal di Jakarta adalah bahasa. Sebagai orang jawa yang bermigrasi ke Jakarta, pastinya orang-orang mengenalku karena logat yang melekat pada diriku. Meskipun sudah menggunakan bahasa Indonesia, aksen medhog khas jawa masih kental terdengar di telinga. Pernah saat itu aku naik angkot dan diajak berbincang supir angkot dengan logat yang dibuat medhog. Namun, di sisi lain aku juga mempunyai banyak teman dari berbagai daerah, seperti Sumatera, Sulawesi, Papua, dan daerah lainnya. Logat yang sangat kental dan sering terdengar membuatku tak sadar bahwa logatku pun sudah mulai terbawa. Bisa dibilang logatku berubah tergantung dengan siapa aku berbicara, terkadang logatku seperti orang Batak medhog, orang Sulawesi medhog, tetapi ketika berbicara dengan sesama orang Jawa logatku kembali seperti aslinya.
Terakhir namun terpenting, aku yang introvert ini merasa ketagihan mengelilingi Kota Jakarta. Aku yang sebelumnya betah tinggal berhari-hari di rumah dan tanpa teman, kini aku merasa bahwa aku sebaliknya. Rasanya ingin terus jalan-jalan mengelilingi kota ini, menikmati kuliner yang enak nan menggoda selera, mengunjungi tempat wisata yang menyenangkan atapun mall-mall mewahnya. Aku juga sering merasa jenuh di kos sendirian, akhirnya untuk mengobati itu aku meluangkan waktu sejenak untuk menikmati udara polusi Jakarta dihiasi gedung-gedung tinggi yang memanjakan mata sambil mencari jajanan yang bisa mengalihkan pikiranku. Jakarta yang serba cashless juga membuatku nyaman tinggal disini, karena tidak perlu takut jika aku lupa membawa uang. Transportasi umum yang bervariatif dengan tarif yang terjangkau juga membuatku lebih mudah melakukan mobilisasi. Perlahan hal ini sedikit membuka pikiranku bahwa Jakarta itu segala ke-modern-an yang ditawarkan di kota ini sangat memudahkan penduduknya untuk melakukan segala hal, termasuk diriku.
Komentar
Posting Komentar