Tantangan Bonus Demografi dan Derajat Kesehatan di Jawa Tengah

Bonus demografi dikenal sebagai kondisi struktur penduduk yang komposisinya didominasi oleh kelompok penduduk berusia produktif yaitu 15-64 tahun, sedangkan kelompok usia yang tidak produktif (penduduk berusia kurang dari 14 tahun dan lebih dari 64 tahun) memiliki porsi yang lebih sedikit. Kondisi ini dikatakan sebagai bonus demografi karena penduduk dengan usia produktif dianggap pada usia tersebut seseorang memiliki potensi terbaiknya sehingga dapat memiliki peranan penting dalam kehidupan, seperti menjalankan pendidikan setinggi-tingginya sesuai potensi yang dimiliki dan bekerja sesuai bidang yang didalaminya. Jika kondisi ini benar-benar terjadi, maka bonus demografi ini menjadi jembatan emas untuk Indonesia meraih masa kejayaannya melalui peranan generasi produktif. 

Sejak tahun 2010 hingga 2023, Indonesia diprediksi akan memasuki masa bonus demografi dengan periode puncaknya yaitu antara tahun 2020 hingga 2030. Hal ini ditunjukkan dengan jumlah penduduk produktif yang porsinya mencapai dua kali lipat dari penduduk non produktif. Dalam masa bonus demografi Indonesia, tentunya banyak daerah yang mengalami hal demikian. Namun berbeda dengan Indonesia, Jawa Tengah nampaknya telah lebih dulu mengalami masa bonus demografi, sehingga kini saatnya masa-masa itu selesai.  

Sumber : BPS

Pada tahun 2020 Jawa Tengah masih dalam masa emas-emasnya, Dimana penduduk berusia produktif mendominasi wilayahnya. Terlihat dari bentuk piramida yang melebar di bagian tengah menunjukkan banyaknya penduduk pada usia dalam rentang 15 hingga 64 tahun. Namun, hasil proyeksi menyatakan bahwa setelah tahun 2020, Jawa Tengah mengalami pergeseran komposisi usia penduduk.

Sumber : BPS

Proporsi penduduk usia 0-14 tahun diproyeksikan turun yang semula pada tahun 2020 sebesar 22,43 persen menjadi 20,22 persen pada tahun 2035. Selama tahun 2020 hingga 2035 terjadi juga penurunan pada penduduk berusia 15 hingga 64 tahun yang semula 69,85 persen menjadi 66,62 persen. Sedangkan pada penduduk berusia 65 tahun ke atas mengalami peningkatan hingga 13,16 persen pada 2035.

 
Sumber : BPS

Menurut data yang berasal dari Dukcapil, persentase penduduk berusia produktif di Jawa Tengah terus mengalami peningkatan sejak tahun 1971. Pada masa itu proporsi penduduk berusia produktif berada pada angka 53,83 persen dari total populasi dan terus meningkat hingga pada tahun 2020 menjadi 70,60 persen. Pada tahun 2020 tercatat bahwa setiap 100 penduduk berusia produktif hanya menanggung sekitar 42 penduduk berusia nonproduktif.

Sedangkan menurut BPS pada 2035, persentase penduduk berusia produktif di Jawa Tengah diproyeksikan meningkat menjadi 50,11 persen dari sebesar 43,16 persen pada 2020. Hal ini berarti setiap 100 penduduk usia produktif (15-64 tahun) menanggung sekitar 50 penduduk usia nonproduktif (0-14 tahun dan 65 tahun ke atas). Persentase penduduk berusia produktif sebesar 50,11 persen ini disumbangkan oleh persentase penduduk usia muda sebesar 30,35 persen dan rpersentase penduduk lanjut usia sebesar 19,76 persen. Semakin tinggi persentase rasio ketergantungan menunjukkan semakin tingginya beban yang harus ditanggung penduduk usia produktif terhadap penduduk usia nonproduktif.

Pergeseran komposisi penduduk Jawa Tengah merupakan dampak dari terjadinya bonus demografi. Tentunya hal ini juga menjadi sebuah tantangan pascabonus demografi yang mana hal ini bergantung pada bagaimana situasi bonus demografi dimanfaatkan. Tentunya bonus demografi memiliki sejumlah tantangan di samping benefit yang dirasakan. Jumlah penduduk produktif yang mendominasi tentunya pemerintah harus siap sedia dalam memfasilitasi kebutuhannya, seperti pendidikan, pekerjaan yang layak, akses ke segala fasilitas publik, hingga kesehatan untuk menyongsong pembangunan Indonesia meraih Indonesia Emas.

Sumber : BPS

Pendidikan merupakan halaman utama yang akan dilihat dari kecerdasan suatu bangsa. Salah satu indicator baiknya pendidikan adalah tingginya angka melek huruf. Dari tahun ke tahun angka melek huruf di Jawa Tengah secara keseluruhan mengalami peningkatan, meskipun pada kelompok usia 25-44 tahun mengalami fluktiatif namun tidak signifikan. Pada kelompok usia 15-24 tahun dan 25-44 tahun keduanya hampir menyentuh angka 100 persen, artinya hampir seluruh penduduk yang berusia 15-24 tahun dan 25-44 tahun mampu membaca. Sedangkan pada kelompok usia 15 tahun ke atas angka melek huruf masih menyentuh 93 persen.

Sumber : BPS

Upaya peningkatan pembangunan pendidikan ini tercermin juga dari perkembangan pembangunan sarana pendidikan, bahwa fokus pembagunan pendidikan di Jawa Tengah sudah mulai bergeser dari penyediaan pendidikan dasar ke pendidikan menengah. Jika dilihat dari pertumbuhan jumlah sekolah dalam kurun waktu 2015 – 2020, jumlah sekolah SD/MI mengalami penurunan sebesar 1,46 persen dalam 5 tahun terakhir, sedangkan jumlah sekolah SMP naik 1.87 persen, dan jumlah sekolah menengah atas naik cukup tajam sejumlah 8,54 persen. Namun kecepatan pertumbuhan jumlah sekolah masih belum mampu mengimbangi kecepatan pertumbuhan siswa, terlihat dari peningkatan ratio murid-sekolah dan ratio murid –guru dalam 5 tahun terakhir. Pada level SM/MA/SMK pada tahun 2015 memiliki beban pelayanan rata-rata 402,62 murid per sekolah (ratio murid-sekolah), pada tahun 2020 harus melayani rata-rata 448,35 murid per sekolah. Sedangkan rata-rata beban guru SM/MA/SMK mengajar per siswa (ratio murid-guru) pada tahun 2015 sebesar 11,6 murid per guru menjadi rata-rata 15,87 murid per guru di tahun 2020. Dengan demikian, selain peningkatan infrastruktur juga harus diimbangi dengan peningkatan jumlah guru yang mengajar, terutama guru-guru yang mengajar di perdesaan.

Sumber : BPS

Selain pendidikan, kesehatan juga merupakan salah satu hal yang sangat penting untuk diperhatikan. Bonus demografi tidaklah berarti apa-apa jika generasi usia produktif tidak dapat bekerja secara produktif dan memaksimalkan potensinya, salah satunya bisa disebabkan karena terganggunya kondisi kesehatan. Dalam potret kesehatan Jawa Tengah yang tercatat dalam BPS, keluhan kesehatan yang tercatat pada tahun 2020 menurun sebesar 1,2 persen dibandingkan tahun 2019. Hal ini menunjukkan derajat Kesehatan penduduk yang meningkat pada tahun 2020. Hal demikian juga terjadi pada angka kesakitan meskipun tidak menurun secara signifikan. Perilaku hidup bersih dan sehat merupakan hal penting untuk meminimalisasi penyakit sehingga dapat meningkatkan status Kesehatan penduduk.

 
Sumber : BPS

Pemerintah telah berupaya untuk memberikan jaminan kesehatan bagi masyarakatnya, yaitu dengan meluncurkan BPJS Kesehatan. Sekitar 6 dari 10 penduduk Jawa Tengah telah memiliki jaminan kesehatan berupa BPJS Kesehatan dan sedikit sisanya tersebar di Jamkesda, asuransi swasta, dan Perusahaan/kantor. Namun, masih terdapat hampir separuh penduduk memilih tidak menggunakan jaminan kesehatan untuk berobat jalan, baik memiliki jaminan kesehatan maupun tidak.

Sumber : BPS

Fasilitas sanitasi yang bersih dan sehat sangat diperlukan bagi penduduk. Keberadaan sanitasi yang layak dapat menunjukkan bahwa rumah tangga tersebut peduli pada kesejahteraan anggota rumah tangganya. Pada tahun 2020 rumah tangga yang menggunakan sanitasi layak sebanyak 83,24 persen. Saat ini akses sanitasi layak masih terkendala sejumlah perilaku penduduk dalam menjaga lingkungan. Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah digencarkannya sosialisasi dan pemahaman yang persuasif agar penduduk dapat meningkatkan kesadaran akan sanitasi yang bersih dan ideal.

Dalam penanganan stunting gubernur jawa Tengah, Ganjar Pranowo, mengadakan program Jateng Gayeng Nginceng Wong Meteng (5NG) dan setiap tahunnya menunjukkan hasil yang positif. Data dari Studi Kasus Gizi Indonesia, angka stunting di Jawa Tengah pada 2018 sebesar 37 persen dan menurun menjadi 19,9 persen pada 2021. Angka tersebut menunjukkan penurunan yang cukup signifikan dan telah melampaui target SDGs, yaitu angka stunting harus di bawah 20 persen pada 2030. Selain melalui program 5NG, pemantauan kebutuhan gizi ibu dan anak juga diperhatikan untuk menekan angka kematian ibu dan anak.

Beberapa upaya telah dilakukan oleh pemerintah untuk menyambut adanya bonus demografi ini. Dari sekian banyak upaya yang telah dilakukan, hasil positif telah diraih pada beberapa fokus permasalahan. Tentunya, ini merupakan cerminan awal melihat keadaan Jawa Tengah di kemudian hari. Meskipun demikian masih terdapat beberapa hal yang harus dituntaskan, Jawa Tengah tetap harus terus berproses menjadi provinsi yang lebih baik tentu dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dengan masyarakatnya, sehingga slogan “Jateng Gayeng” dapat benar-benar terealisasi.

 

Daftar Pustaka :

Publiaksi BPS. 2022. Analisis Profil Penduduk Indonesia. https://www.bps.go.id/id/publication/2022/06/24/ea52f6a38d3913a5bc557c5f/analisis-profil-penduduk-indonesia.html

Portal PPID Prov.Jateng. 2021. Angka Stunting Jateng Turun 7 Persen, Lampaui Target SDGs. https://ppid.jatengprov.go.id/angka-stunting-jateng-turun-7-persen-lampaui-target-sdgs/

Publikasi BPS. 2021. Profil Kesehatan Provinsi Jawa Tengah 2020. Https://jateng.beta.bps.go.id/id/publication/2021/05/28/e645f5998de851c45f0c68c5/profil-kesehatan-provinsi-jawa-tengah-2020.html

Publikasi BPS. 2020. Provinsi Jawa Tengah Dalam Angka 2020. Https://jateng.bps.go.id/publication/2020/04/27/b96a0d5f63de624aa600934d/provinsi-jawa-tengah-dalam-angka-2020.html

Publikasi BPS Jawa Tengah. 2021. Statistik Pendidikan Provinsi Jawa Tengah 2020. https://jateng.beta.bps.go.id/id/publication/2021/07/07/706715eb7d1ba7fc4293a905/statistik-pendidikan-provinsi-jawa-tengah-2020.html

Kemenkes. 2020. Profil Kesehatan Indonesia 2020. https://www.kemkes.go.id/id/profil-kesehatan-indonesia-2020

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Trade Off antara Pembangunan Pariwisata Berbasis Alam dan Budaya di Semarang

Jakarta dan Diriku