Meraih Mimpi Menjadi Mahasiswi Polstat STIS
Hai, aku Rizqe, seorang perempuan yang lahir dan tumbuh dewasa di Jawa Tengah. Memiliki latar belakang keluarga yang merupakan seorang ASN tentunya aku sedikit banyak tahu tentang pahit manisnya kehidupan seorang ASN. Karena latar belakang itu pula sejak kecil aku sudah dikenalkan dan dimotivasi untuk menjadi seorang ASN.
Sejak menduduki bangku SMP aku sudah dimotivasi ibuku untuk bisa masuk perguruan tinggi kedinasan, saat itu aku dikenalkan dengan PKN STAN dan Polstat STIS. Di usiaku yang masih kecil dan masih sangat jauh untuk mendaftar kuliah aku masih belum terlalu memikirkannya, namun aku sudah memiliki ketertarikan untuk bisa diterima di salah satu diantara keduanya. Jika anak-anak SMP lainnya masih memikirkan ingin masuk SMA mana, ataupun ingin kuliah di universitas ternama seperti UGM, UI, ITB lain halnya dengan aku, aku dengan mantap ingin masuk kedinasan.
Ketika aku sudah berada di bangku SMA aku mulai memikirkan sekolah kedinasan yang akan aku perjuangkan. Menyadari hal itu sangat berpengaruh pada masa depanku, butuh waktu lama untuk aku bisa memutuskan hal itu. Singkat cerita ,saat itu aku kelas 11 SMA, mendekati jam pulang sekolah terdengar pengumuman yang memberitahukan bahwa sepulang sekolah akan diadakan sosialisasi oleh mahasiswa Polstat STIS di sekolahku yang ditujukan kepada siswa kelas 12. Dalam hati aku langsung gelisah ingin sekali aku ikut namun waktu terasa berlalu sangat lambat setelah mendengar pengumuman itu, di sisi lain aku tidak tahu apakah aku yang masih kelas 11 boleh mengikuti sosialisasi itu namun aku memutuskan untuk tetap mengikutinya. Bel tanda pulang sekolah berbunyi aku langsung bergegas menuju ruangan sosialisasi. aku duduk menyimak paparan dari Mahasiswa Polstat STIS. Setelah menyimak paparan dari sosialisasi itu aku seperti mendapatkan jawaban dari pertanyaanku selama ini, mulai saat itu aku perlahan meyakini bahwa Polstat STIS cocok untukku dan sejak saat itu akan mulai memperjuangkan Polstat STIS.
Tahun 2021 adalah tahun yang menegangkan bagiku. Di tahun itulah pertama kalinya aku memperjuangkan cita-citaku ini. Hingga tanggal 10 April 2021 tiba, waktu pendaftaran sekolah kedinasan dibuka. Saat itu semangatku berapi-api, aku merasa yakin dengan hasil belajarku dan nilai tryout-ku yang selalu bagus aku akan berhasil mendapatkan Polstat STIS di tahun itu juga. Namun, seperti disambar petir di siang bolong, seketika badanku lemas saat melihat nilai ujian SKD ku yang keluar dan aku tahu bahwa nilaiku tidak akan bisa membawaku lanjut ke tes tahap 2. Aku hanya bisa menangis selama perjalanan pulang. Aku putus asa dan rasanya tidak ingin melakukan apapun, hanya berdiam diri di kamar dan menangisi kegagalanku. Kesedihanku terus berlanjut hingga berbulan-bulan, rasanya trauma itu masih melekat hingga aku saat itu menghindari segala hal yang berkaitan dengan Polstat STIS dan sekolah kedinasan lainnya.
Setelah kegagalan itu aku memutuskan untuk kuliah di PTN. Selama 1 tahun aku menjalani perkuliahan di PTN rasanya bukan ini yang aku inginkan, aku tidak pernah merasa senang akan hal ini. Merasa sudah berbulan-bulan aku tidak belajar SKD lagi aku memutuskan untuk kembali belajar, semangat baru diiringi dengan doa dan ibadah yang lebih baik tidak lupa selalu meminta ridho orang tua aku memulai perjuanganku kembali. Alhamdulillah, perjuanganku kali ini terasa jauh lebih mudah. Aku menemukan komunitas belajar baru yang beranggotakan orang-orang hebat dengan tujuan yang sama, yaitu ingin masuk ke sekolah kedinasan. Aku juga mendapatkan mentor baru yang secara sukarela membagikan ilmu dan tipsnya sehingga mereka bisa lulus tes CPNS agar kami juga dapat menyusul keberhasilannya.
Awal belajar aku merasa nilaiku turun drastis dibandingkan nilai tryout-ku di tahun sebelumnya tetapi aku tidak menyerah, meskipun butuh waktu yang lama dan pernah berada bada posisi "nilai segitu saja terus" Aku tetap terus belajar dan berlatih hingga saat diadakan tryout SKD dengan live score seperti suasana SKD aslinya aku mendapatkan ranking 3 dengan nilai yang menurutku cukup tinggi, yaitu 464 itu menjadi motivasi awal bagiku kalau aku mampu diterima di sekolah kedinasan. Karena tryout itu pula sejak saat itu aku dijagokan oleh para mentorku bahwa aku bisa lulus di tahun itu juga. Walaupun itu hanya latihan, aku seperti mendapat nyawa belajar yang baru, aku semakin sering belajar dengan mereka, zoom meeting membahas soal dan tips SKD setiap malam, berlatih soal-soal matematika dan soal tes matematika Polstat STIS tahun-tahun sebelumnya aku merasa jauh lebih yakin bahwa aku siap menghadapi USM STIS tahun 2022.
Tidak terasa waktu memasuki bulan April 2022 yang artinya akan dibuka pendaftaran sekolah kedinasan. Namun, di tahun itu ada sedikit perubahan. Jika di tahun-tahun sebelumnya penempatan dilakukan di akhir kelulusan, mulai tahun itu penempatan sudah ditentukan di awal pendaftaran. Melihat kuota Jawa Tengah yang sangat sedikit yaitu hanya tersedia 1 kuota di setiap jurusan untuk jenjang D-IV, sehingga mau tidak mau aku harus memilih provinsi lain. Aku memutuskan untuk memilih jurusan D-III Statistika pada seleksi tahun ini dengan segala pertimbangan. Aku menyerahkan pada orang tuaku untuk memilihkan provinsi penempatanku agar mereka lebih ikhlas melepaskanku saat penempatan nanti dan tidak terlalu merasa khawatir. Pilihan orang tuaku jatuh pada Provinsi Aceh, kata mereka aku harus mendapatkan lingkungan yang bagus untuk ibadahku karena lingkungan sangat mempengaruhi perilaku kita dan mereka tidak ingin setelah aku merasa sukses aku lupa akan kehidupan akhirat. Dengan keputusan itu aku memantapkan tekadku untuk mendaftar jurusan D-III Statistika Provinsi Aceh.
Jadwal tes tahap 1 sudah ditentukan, tentu masih ada sedikit rasa takut dan trauma takut jika aku kembali gagal di tahun itu. Ditambah lagi jadwal SKD ku bertepatan dengan jadwal UAS ku di PTN. Namun aku tetap harus berjuang dan justru semangat belajarku harus ditingkatkan. Singkat cerita tiba di hari pelaksanaan tes SKD ku, rasa gugup itu kembali timbul dan aku terus berdzikir untuk menenangkan hatiku dan percaya jika memang Allah menghendaki aku lulus maka aku akan lulus. Alhamdulillah, tes kali ini berjalan sangat lancar, nilai yang kudapatkan tidak jauh dari perkiraanku yaitu 444 dan alhamdulillah nilai itu membawaku lanjut ke tahap berikutnya.
Tibalah hari pelaksanaan tes tahap 2, yaitu tes matematika dan psikotes. Tes kali ini persiapanku sangatlah sedikit karena harus berdiam diri selama aku sakit hampir seminggu. Meskipun begitu hal ini tidak menggoyahkan semangatku. Alhamdulillah tes psikotes berjalan lancar meskipun sedikit ragu. Setelah keluar ruangan tes, aku bersama peserta yang lain mempersiapkan diri belajar untuk tes matematika. Memasuki ruangan tes kembali, aku tidak lupa berdoa. Soal demi soal aku kerjakan, yang semula aku merasa sangat gugup dan insecure dengan peserta yang lain, kali ini aku merasa sangat percaya diri. Soal yang aku kerjakan rasanya sangat mudah dan bisa aku selesaikan dengan sangat cepat. Hanya butuh waktu sekitar 40 menit aku sudah bisa menyelesaikan 30 dari 40 soal dan semuanya aku yakin bahwa jawabanku benar. Lalu aku kembali fokus mengerjakan soal yang belum kujawab. Hingga tiba saatnya waktu ujian telah berakhir, aku men-submit jawabanku dan munculah nilaiku. Betapa bahagianya aku, aku mendapatkan nilai yang cukup tinggi, 150/200!
Setelah menunggu berhari-hari tibalah pengumuman kelulusan tes tahap 2. Yups, sesuai perkiraanku, aku mendapatkan keterangan P/L yang artinya aku lulus passing grade dan lanjut ke tahap 3, dan terkejutnya lagi namaku berada di posisi teratas di formasi pilihanku!! Sontak aku teriak kegirangan dan menghampiri ibuku untuk menunjukkan hasil itu. Kembali aku meminta doa ibuku agar aku dimudahkan di tes tahap 3 hingga aku ditetapkan diterima menjadi mahasiswi Polstat STIS.
Persiapanku menghadapi tes tahap 3 tidaklah mudah. Aku dengan keturunan hipertensi berusaha keras agar tekanan darahku normal saat tes kesehatan. Aku melakukan segala cara yang disarankan dokter agar tekanan darahku normal. Singkatnya, tiba hari aku melaksanakan tes kesehatan, semua berjalan cukup lancar namun ada satu kendala. Iya, tekanan darah. Rasa gugup yang begitu hebat, dan jantung yang berdebar kencang memperparah tekanan darahku. Tekanan darahku cukup tinggi yaitu 138/102, padahal biasanya tekanan darahku tidak setinggi itu. Akhirnya dokter memintaku meminum air sebanyak 3 gelas lalu datang kembali untuk ditensi ulang. Setelah melaksanakan perintah dokter, aku kembali ditensi. Alhamdulillah tekanan darahku sudah normal, yaitu 118/78. Aku sedikit cemas akan hasil tes kesehatanku, namun sekarang tinggal saatnya berserah diri kepada Allah. Aku hanya bisa meyakini bahwa jika ini memang rezekiku, aku akan lulus, jika bukan rezekiku, aku akan mendapatkan yang lebih baik lagi.
Waktu yang ditunggu-tunggu telah tiba, hari pengumuman hasil kelulusan USM STIS tahun 2022. Perlahan aku mencari namaku, dan betapa bahagianya aku saat mengetahui bahwa aku lulus. Seketika suasana rumah menjadi haru, tangis bahagia pecah saat itu. Impianku selama ini akhirnya terwujud. Aku menjadi mahasiswi Polstat STIS!
Hingga tiba hari keberangkatanku ke Jakarta, melakukan daftar ulang, menjalankan MP2K dilanjutkan PKBN yang sangat melelahkan namun menyenangkan. Minggu pertama perkuliahan berkenalan dengan mata kuliah baru, dosen baru, dan teman-teman baru. Aku sangat bersyukur akhirnya aku bisa merasakan kuliah di Polstat STIS. Hingga tulisan ini dibuat, tidak terasa aku sudah menempuh semester 4. Rasanya baru kemarin aku datang ke Jakarta, MP2K, PKBN di Cimahi, tiba-tiba sudah setengah perjalanan kuliah. Cukup sekian yang dapat aku sampaikan, mohon doanya yaa agar perkuliahanku terus berjalan lancar hingga wisuda, aamiin. Terima kasih!
Komentar
Posting Komentar